Jum
03
Apr
2009
Keindahan Masa Kecil
|
Masa-masa kecil kadang terasa aneh, lucu, menggemaskan. Aku ingat betul, ketika kecil dulu, di suatu siang aku dijemput bapak di sekolah ntuk meminta pamit, karena mbokku mau diajak ke rumah sakit. Mbokku kena penyakit paru-paru, penyakit yang identik dengan kemiskinan, mungkin. Teman sekelasku ikut memperhatikan kedatangan Bapakku ketika matur kepada Pak Guru. Waktu itu aku sekolah di SD Negeri Tepus, tetapi karena SD belum memiliki gedung, sekolahku selalu berpindah dari rumah penduduk yang satu ke rumah lain. Waktu iktu seingatku aku duduk di kelas IV dan menempati rumah Kaki Tinarja. Bangku sekolah panjang disisi anak 3 - 4, tempat duduk namanya padhung, sebuah kursi masal. Lebar bangku selebar 2 papan yang disatukan kurang lebih 50 cm, tetapi karena kualitas kayu dan teknik pemasangan yang kurang rapi, sambungan antar papan jadi renggang. Akibatnya kalau dipakai alas menulis, buku tulis jadi berlubang, karena teknik menulis/memegang alat tulis kami terlalu bertenaga. Naik Kelas V sekolahku pindah ke rumah Eyang Lebe (Kakeknya temanku Suripah), di pekarangan rumahnya tumbuh sebatang pohon jambu air, kecil-kecil buahnya tetapi terlalu menarik bagi kami untuk memetiknya di kala istirahat. (Maaf tanpa ijin juga lho). Masih sama seperti di kelas IV, kami masih jauh dari fasilitas pendidikan yang memadai. Papan tulis berukuran 1m x 1m bertiang topang. Penghapus mirip bantal mini, bikinan kami produk mata pelajaran keterampilan / hasta karya. Nah di kelas V akhir, ketika itu aku diajar oleh Pak Akhmad (beliau dari Magelang) kami sudah bisa menempati gedung SD Inpres walau numpang, karena sejak Tahun 1977 berdirilah SD INpres Tepus, tetapi karena sekolah baru siswa baru kelas I dan II. Ruang kelas sebagian belum berpenghuni. Wuih senangnya sekolah di gedong, dengan meja berangka besi, kursi siswa sudah satu satu setiap siswa. papan tulis tertempel di dinding lebih panjang di banding produk ndesa. Di kelas V itu kami mulai diperkenalkan dengan Senam Pagi Indonesia (SPI). Karena SD belum punya tape recorder, dan kebetulan pula Bapakku punya Tape Recorder p;lus Radio 2 band, kalau kegiatan senam aku yang bawa tape bernenergi baterai Eterna 6 buah. Pada saat lomba di kecamatan, kostum yang dipakai sebagai seragam kaos oblong merk Yupiter, dan banyak temanku yang pakai merk Swan (gambar banyak) dan Gazelle (gambar kerbau/kijang).Guru Olehraga kami bernama Pak Tulus, waktu itu Pak Tulus terkenal sebagai guru lompat tinggi dan kiper Sepek Bola Klub Angkasa Desa Makam. Di kelas VI yang mengajar kami Pak Suparna, beliau kalau mengajar bersandar pada meja guru, tidak lupa kedua ibu jari tangannya dpakai untuk menahan tubuh beliau yang tinggi. Beliau bila mengajar tidak mengenakan sepatu, tetapi sandal Lilie, sandal yang licin kalau kena air, suka mendahului kaki pemakainya. Walau dalam kesederhanaan, beliau sangat menguasai metodologi pembelajaran, setiap materi disajikan dengan jelas. Aku ingat ketika ulangan matematika dari 20 teman sekelasku hanya ada siswa yang dapat nilai 6 dan satu siswa dapat nilai 5. Alhamdulillah yang dapat 6 itu siswa terkecil bernama sasno.Barangkali itulah yang kemudian menjadikanku sebagai salah satu dari tiga siswa yang dipilih untuk ikut lomba cerdas cermat di kecamatan bersama Sirmo dan Lamus. Hanya karena jawabanku kurang lengkap di nomor 20 dengan pertanyaan Siapakah menteri perawan ? Ku jawab Ny. Lasiyah Sutanto, kami mendapat nilai 0, kata juri seharusnya pakai SH. Padahal mestinya kami juara kecamatamn walau diberi nilai 4 saja cukup. Nah sejak kelas IV aku suidah piatu, Bapak kawinlagi, dan Mbokku kemudian jualan kangkung. Tiap pagi aku bertugas membantu si Mbok kulak di pasar makam, aku bertugas "mikul" tumbu. Itulah sebabnya setiap hari aku terlambat masuk sekolah, bahkan selama di SD aku tidak pernah yang namany mandi pagi dan gosok gigi. Begiru pikulan kutaruh di rumah, aku bergegas ke sekolah. Pelajaran sudah dimulai, karena ketika saya pulang dari pasar, hampir dipastikan aku nyalip Pag Guru. Bersepatupun setahu sekali, yaitu pada hari tujuh belasan. Satu kenangan yang uga tidak terlupakan yaitu ketika Pak Tulus mamu pindah ke daerah asalnya di Ajibarang, waktu itu saya diberi bola pingpong, putih warnanya, bertuliskan spidol hitam "Bola TM". Mungkin maksud Pak Guru itu adalah bola Tenis Meja, tetapi aku memaknainya sebagai Bola Tanda Mata. Walau masih SD saya sudah sedikit memahami, bahwa ternyata seorang guru dapat membuat satu kenangan indah, satu memori yan sulit dilupakan muridnya. Istilah yang ngetred sekarang mungkin itu yang disebut sebagai reward, tidak harus materi, tetapi sapaan, senyum kedamaian, sanagat memotivasi anak untuk bercita-cita setinggi langit. Setiap orang tentu punya kenanan sendiri-sendiri di kala kecil, termasuk anda, maka berbagilah kebahagiaan masa lalu dengan sesama anak ndesa..
Silahkan Login untuk menulis komentar pada artikel ini, atau klik menu "Daftar Member" bagi yang belum menjadi anggota agar anda bisa mengirim artikel atau komentar di situs ini
Powered by !JoomlaComment 3.25
3.25 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||||
| Pemutakhiran Terakhir ( Sabtu, 04 April 2009 08:14 ) |
Artikel Terbaik
Pengunjung
![]() | Hari ini | 38 |
![]() | Kemarin | 776 |
![]() | Minggu ini | 4449 |
![]() | Bulan ini | 11027 |
![]() | Total | 557897 |
Anggota LOGIN
Artikel Terbaru
Anda akan dibayar 0,10$ periklan yang kamu klik
Komisi klik 10 iklan perhari 0,10$, jika 20 referal klik 10 iklan komisi 2.00$,kalo setiap hari komisi 2.10$, jadi perminggu komisi 14.70$ Buktikan sendiri!!

DOMAIN Gratis Tanpa Syarat
Mau domain gratis untuk website anda
Komisi klik 10 iklan perhari 0,10$, jika 20 referal klik 10 iklan komisi 2.00$,kalo setiap hari komisi 2.10$, jadi perminggu komisi 14.70$ Buktikan sendiri!!

DOMAIN Gratis Tanpa Syarat
Mau domain gratis untuk website anda
Tamu RC Sekarang
Ada 26 tamu onlineJumlah Anggota
Total Members : 1246Latest Member : Jargefaigma
Members Online : 0
Today : 0 Registers
This Week : 8 Registers
This Month : 20 Registers

Hub.0819.0368.1012
Pdf
Print
Email 





