Rab
27
Mei
2009

Sepak bola: apakah Kita hanya menjadi bangsa penikmat bola?

Written by Ade Published in: Olahraga Comments 0 PDF Pdf Print Print Email Email

Sepak bola: apakah Kita hanya menjadi bangsa penikmat bola?

Pertandingan final piala champion antara Manchester United dengan Barcelona FC barusan berakhir dengan kemenangan 2-0 untuk Barca. Kecewa dan senang adalah dua kutub yang berbeda yang dirasakan oleh para fans masing-masing club.  Kita merupakan salah satu negara yang cukup jauh dari kedua club tersenbut berasal juga jauh dari tempat pertandingan final dilaksanakan. Namun hingar bingar pertandingan sangat terasa di negeri ini.

Berjuta penonton mulai dari kuli bangunan, wiraswasta, pelajar, mahasiswa, para atlet, komentator bola, penjudi, bandar judi, anggota dewan, pejabat sampai presiden dan wakilnnya pun tak kalah memberikan komentar sebelum pertandingan. Kita seolah merasakan bahwa club dari Indonesia lah yang bertanding.

Namun apakah kita cukup puas dengan hanya menjadi penikmat bola? Inilah pertanyaan yang harus segera dijawab oleh kita kalau kita mengaku sebagai bangsa yang besar dan ingin disegani. Mengapa? Karena olah raga khususnya sepak bola merupakan bahasa universal bagi bangsa di dunia. Hampir semua bangsa menjadikan olah raga ini tidak sekedar olah raga namun mempunyai nilai ekonomi dan social yang tinggi. Kita bisa membayangkan keuntungan yang didapat dari penyelenggaraan piala champion ini mulai dari hak siar, tiket, dan lain-lain. Demikian juga nilai social, dengan pertandingan ini meskipun jauh dari Indonesia kita merasa adanya keterikatan kita dengan club-club serta kita lebih mengenal mereka dan negaranya.

Apakah kita hanya melahirkan generasi penikmat dan komentator? Inilah yang seharusnya menjadi keprihatinan kita, bahwa liga yang ada belum terasa mencerminkan peningkatan kualitas dan nilai-nilai dari bangsa kita. Kita sudah mendatangkan pemain-pemain asing yang tak sedikit  bayarannya untuk tingkatan bangsa Indonesia tetapi transfer knowledge dan skills kelihatan lambat sekali. Mengapa? Bisa jadi karena sepak bola baru menjadi hobi belum dikemas menjadi suatu profesi yang menjanjikan bagi kita. Kita dapat menelusuri berapa banyak anak serta orang tua yang mendorong anaknya menjadi atlet. Akhirnya kita hanya mencetak generasi peramal pertandingan yang handal bukan pemain yang handal.

Bobroknya moral pemain dan penonton juga tak lepas dari hal yang menjadikan sepakbola kita lambat untuk berkembang. Kita sudah cukup lama mempunyai liga, namun di lapangan sikap dan perilaku pemain tak kalahnya dengan preman-preman lapangan. Mereka belum cukup dewasa dalam pengontrolan emosi dan mengevaluasi diri bahwa perilakunya mencerminkan kebodohan kita. Tak kalahnya adalah perilaku penonton di lapangan. Bukankan kita bangsa berbudaya yang menjunjung tinggi sopan santun? Emosi perlu tetapi sejauhmana kita melampiaskan emosi tersebut adalah suatu kedewasaan kalau kita ingin maju.

Tak kalah seru adalah organisasi PSSI. Kita mempunyai PSSI yang bertugas meningkatkan mengkoordinasi persepakbolaan di Indonesia. Namun kiprahnya belum  nyata kelihatan. Lucunya lagi ketuanya adalah seorang pesakitan karena kasus korupsi dan semua pengurus mati-matian mempertahankan kepemimpinannya meski ada dalam sel. Lalu kapan kita akan maju? Jangan menjadikan kekurang fisik merupakan harapan berprestasi, kita dapat melihat Korea dan Jepang yang pesat dalam pembinaan sepak bola. Mengapa kita tidak mengikuti mereka, padahal mempunyai kesamaan dengan mereka. Ataukah kita hanya cukup puas dengan bangsa penikmat bola?

komentar
Search
Silahkan Login untuk menulis komentar pada artikel ini, atau klik menu "Daftar Member" bagi yang belum menjadi anggota agar anda bisa mengirim artikel atau komentar di situs ini

3.25 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

Artikel Terbaik

Pengunjung

mod_vvisit_counterHari ini39
mod_vvisit_counterKemarin776
mod_vvisit_counterMinggu ini4450
mod_vvisit_counterBulan ini11028
mod_vvisit_counterTotal557898

Anggota LOGIN



Anda akan dibayar 0,10$ periklan yang kamu klik
Komisi klik 10 iklan perhari 0,10$, jika 20 referal klik 10 iklan komisi 2.00$,kalo setiap hari komisi 2.10$, jadi perminggu komisi 14.70$ Buktikan sendiri!!

CO.CC:Free Domain
DOMAIN Gratis Tanpa Syarat
Mau domain gratis untuk website anda

Tamu RC Sekarang

Ada 24 tamu online

Jumlah Anggota

Total Members : 1246
Latest Member : Jargefaigma
Members Online : 0
Today : 0 Registers
This Week : 8 Registers
This Month : 20 Registers

Hub.0819.0368.1012