Rab
25
Mar
2009
Berburu Sertifikat
|
Sejak digulirkannya sertifikasi guru dimana seorang guru yang memenuhi empat kompetensi yaitu profesional, akademis, kepribadian, dan sosial akan mendapatkan tunjangan profesi sebesar 100% gaji pokok, perburuan sertifikat menjadi trend terbaru di kalangan dunia guru.
Perburuan ini menjadi fenomena tersedniri seperti halnya fenomena ponari. Banyak guru-guru senior yang awalnya menolak jika ditugasi untuk mengikuti kegiatan pengembangan profesi, sekarang ini bahkan rela merogoh kocek pribadi untuk ikut dalam penataran, seminar, workshop, pokoknya kegiatan apapaun yang menjanjikan piagam atau sertifikat. Bahkan hari-hari MInggu yang semula diisi dengan jadwal kumpul dengan keluarga, arisan dan sejenisnya rela ditinggalkan, hanya untuk selembar sertifikat. Demam sertifikat ini dari satu sisi bernilai positif, ketika seoran guru mendatangi sebuah acara pengembangan profesi, jika berangkat dengan niat membuka wawasan tentang bagaimana memajukan dunia kerjanya. Tetapi sangat mungkin orientasi mereka hanyalah selembar sertifikat belaka. Penulis beberapa kali menjumpai, sebuah acara menjadi sepi ketika jam isoma datang. Setelah mendapakan jatah konsumsi siang, mereka berbondong-bondong ijin mendahului acara, prinsip mereka katanya ketika pagi datang sudah absen atau menanandatangai daftar hadir. Dengan begitu otomatis pada saatnya panitia membagikan sertifikat mereka akan ikut kebagian, minimal ditipkan kepada panitia atau menyuruh salah satu temannya untuk membawakannya. Sungguh ironis, disaat kita prihatin dengan kondisi mutu pendidikan, para pendidik sudah terkena virus yang sulit dicarikan penangkalnya. Walhasil mutu masih merupakan misteri yang sulit dicari solusinya. Yang ada dibenak sebagian teman-teman adalah tunjangan profesi 100%, bukan bagaimana berkinerja terbaik demi mutu pendidikan anak-anak bangsa. Nah, budaya seperti ini tragisnya ditangkap oleh lembaga-lembaga penyelenggara seminar, lokakarya, diskusi panel, workshop atau apapun kemanannya untuk meraup keuntungan dengan penyelenggaraan kegiatan tersebut. Umumnya penyelenggara berusaha mendapat rekomendasi (masa orba ketebelece) dari para birokrat, sekaligus mengundang mereka sebagai salah satu narasumber. Akankah yang seperti cerita pengalaman di atas terus berjalan ? Rupanya kita masih harus memanjangkan hela nafas, menyaksikan pemandangan alam yang tidak indah dipandang. Hanya doa dan harapan semuaga kita semua segera tersadar dan bangundari tidur panjan yang melelahkan. Mangga ditanggapi ! Salam untu saudara-saudaraku, senior-seniorku, bapak dan ibu guru dimanapun berada.
Silahkan Login untuk menulis komentar pada artikel ini, atau klik menu "Daftar Member" bagi yang belum menjadi anggota agar anda bisa mengirim artikel atau komentar di situs ini
Powered by !JoomlaComment 3.25
3.25 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||||||||
| Pemutakhiran Terakhir ( Rabu, 01 April 2009 05:29 ) |
Artikel Terbaik
Pengunjung
![]() | Hari ini | 67 |
![]() | Kemarin | 776 |
![]() | Minggu ini | 4478 |
![]() | Bulan ini | 11056 |
![]() | Total | 557925 |
Anggota LOGIN
Artikel Terbaru
Anda akan dibayar 0,10$ periklan yang kamu klik
Komisi klik 10 iklan perhari 0,10$, jika 20 referal klik 10 iklan komisi 2.00$,kalo setiap hari komisi 2.10$, jadi perminggu komisi 14.70$ Buktikan sendiri!!

DOMAIN Gratis Tanpa Syarat
Mau domain gratis untuk website anda
Komisi klik 10 iklan perhari 0,10$, jika 20 referal klik 10 iklan komisi 2.00$,kalo setiap hari komisi 2.10$, jadi perminggu komisi 14.70$ Buktikan sendiri!!

DOMAIN Gratis Tanpa Syarat
Mau domain gratis untuk website anda
Tamu RC Sekarang
Ada 23 tamu onlineJumlah Anggota
Total Members : 1246Latest Member : Jargefaigma
Members Online : 0
Today : 0 Registers
This Week : 8 Registers
This Month : 20 Registers

Hub.0819.0368.1012
Pdf
Print
Email 





