Intro
Kam
04
Mar
2010

Home care

Written by Avicenna Published in: Pendidikan Umum Comments 0 PDF Pdf Print Print Email Email next

Definisi home care

Menurut Departemen Kesehatan (2002) menyebutkan bahwa home care adalah pelayanan kesehatan yang berkesinambungan dan komprehensif yang diberikan kepada individu dan keluarga di tempat tinggal mereka yang bertujuan untuk meningkatkan, mempertahankan atau memulihkan kesehatan atau memaksimalkan tingkat kemandirian dan meminimalkan akibat dari penyakit.

Baca selengkapnya...
 
Jum
19
Peb
2010

Efek Samping Pengobatan TB

Written by ismail Published in: Kesehatan Comments 0 PDF Pdf Print Print Email Email prev
next

Pada awal pangobatan di poli TB BKPM kota Pekalongan, pasien biasanya mempunyai banyak keluhan, baik yang berkaitan dengan penyakitnya maupun efek samping dari pengobatan dengan obat anti TB (OAT). Keluhan yang bekaitan dengan penyakit TB antara lain: sesak nafas, batuk darah, batuk berdahak dan batuk darah. Sedangkan  efek samping yang sering dikeluhkan pasien TB adalah: pusing, mual, muntah, gatal, nyeri tulang dan sendi, kaki kesemutan, telinga berdengung dan pandangan kabur.

Apabila pasien mengalami keluhan seperti di atas, pada umumnya pasien ketakutan dan segera menghentikan pengobatannya. sebaiknya sebelum memulai pengobatan, pasien diberikan penyuluhan tentang penyakit TB: gejala, penularan, pencegahan, pengobatan dan efek samping pengobatannya. Pasien biasanya datang ke poli TB dengan membawa sisa obat dan mengatakan tentang keluhannya.

Keluhan yang paling sering dirasakan pasien adalah kepala pusing. Hal ini disebabkan oleh tubuh pasien sedang mengadakan proses adaptasi dengan pengobatan OAT. Keluhan ini akan berangsur-angsur hilang. Dokter kemudian memeriksa dan memberikan memberkan obat untuk meredakan pusing.

Apabila pasien mengeluh tidak nafsu makan, mual dan muntah, dokter kemudian akan memberikan rujukan untuk diperiksa darahnya. Apabila kadar SGOT dan SGPT dalam darah normal, dokter akan memberikan obat anti mual dan antasida. Bila kadar SGOT & SGPT melebihi normal, dokter akan memberikan hepatoprotektor.  Bila kadar SGOT & SGPT melebihi 3 kali nilai normal disertai gejala mata berwarna kuning, maka dokter akan menghentikan pengobatan TB untuk sementara sampai nilainya mendekati normal.

Keluhan gatal-gatal yang dirasakan pasien oleh alergi terhadap OAT. Pengobatan TB tetap dilanjutkan bila dengan obat anti alergi gatal-gatalnya berkurang. Bila gatal-gatal makin parah, dokter akan memberikan obat dalam dalam kemasan terpisah untuk mengetahui obat mana yang menyebabkan alergi. Pengobatan TB dilanjutkan tanpa menyertakan obat penyebabkan alergi.

Keluhan nyeri tulang dan sendi disebabkan oleh asam urat dalam darah naik karena obat pirazinamid. Dokter kemudian akan memberikan obat pereda nyeri. Bila keluhan keluhan tidak berkurang, dokter akan mengurangi dosis pirazinamid atau bahkan menghentikannya.

Kaki kesemutan dan kulit terasa panas adalah efek samping dari obat INH. Keluhan ini akan berkurang dengan pemberian piridoksin (vitamin B6). Bila perlu diberikan neurotropik (kombinasi B1, B6 dan B12).

Keluhan telinga berdengung jarang dirasakan oleh peasien. Keluhan ini bersifat sementara dan akan berkurang pelan-pelan. Kencing berwarna merah pasti dialami pasien yang sedang dalam pengobatan TB. Hal ini karena warna obat rifampisin,  bukan efek samping obat. Pasien tidak perlu merasa kawatir.

Apabila kuman TB telah menginfeksi pita suara, maka pasien akan mengeluh suara serak. Keluhan ini tidak akan segera hilang, namun pada akhir pengobatan biasanya suara serak ini akan berkurang.

dr. Ahmad Ismail

 
Jum
19
Peb
2010

Sindroma Obstrusi Pasca TB

Written by ismail Published in: Kesehatan Comments 0 PDF Pdf Print Print Email Email prev
next

“Dok, saya telah menyelesaikan pengobatan paru-paru selama 6 bulan, tapi kok nafas saya masih kempis-kempis dan masih batuk. Tolong saya diberi obat biar nafas saya plong

Pertanyaan semacam itu sering saya dengar di ruang poli non-TB BKPM kota Pekalongan. Banyak pasien yang telah menyelesaikan pengobatan TB selama 6 bulan bahkan ada yang lebih, namun kembali dengan keluhan yang mirip dengan gejala TB, yaitu: sesak nafas, batuk berdahak dan batuk darah. Mereka mengira penyakit TB yang dulu sudah dinyatakan sembuh oleh dokter, sekarang kambuh.

Dokter kemudian merekomendasikan pasien untuk diperiksa dahak dan difoto rontgen dada. Hasil  pemeriksaan dahak negative, artinya tidak ditemukan kuman dalam sampel dahak yang diperiksa. Hasil foto rontgen dada menunjukkan bekas TB. Dokter menyimpulkan bahwa pasien menderita sindroma obstruksi pasca tuberculosis (SOPT). Namun pasien tetap minta untuk diobati seperti dulu, yakni pengobatan TB selama 6 bulan.

SOPT disebabkan oleh bekas dari luka akibat infeksi TB paru. Jadi, semakin luas jaringan paru yang rusak akibat infeksi kuman TB, semakin luas bekas luka ang ditimbulkan. Gampangnya, jika pasien datang dengan TB paru yang parah (destroyed lung) maka kemungkinan setelah sembuh akan meninggalkan bekas yang luas sehingga keluahan yang dirasakan juga semakin berat.

Setiap kali kita mengadakan penyuluhan terhadap pasien TB paru khususnya BTA +, dokter selalu menyarankan agar seluruh orang yang tinggal serumah dengan penderita TB untuk diperiksa. Penderita TB dengan gambaran rontgen dada yang minimal biasanya tidak menunjukkan gejala yang berarti, seperti batuk biasa. Dengan pengobatan TB pada stadium awal diharapkan setelah selesai pengobatan, pasien tidak menderita SOPT.

Dari seluruh pasien TB yang telah menyelesaikan pengobatannya, 16-50% akan menderita SOPT mulai dari derajad ringan sampai berat. Mengingat insidensi SOPT yang tinggi, maka pada pasien TB yang masih dalam pengobatan, dokter selalu menganjurkan agar rajin berolahraga untuk mengembalikan fungsi paru. Olahraga yang dianjurkan adalah: jalan kaki, lari-lari kecil (jogging), bersepeda atau renang. Bagi pasien dengan keluhan nyeri sendi, dianjurkan untuk bersepeda atau renang.

Tidak seperti TB yang masih aktif, SOPT tidak menularkan pada orang-orang di sekitarnya. Namun sayangnya SOPT tidak dapat disembuhkan. Gejalanya hanya dapat diminimalisasi dengan olahraga secara teratur.

Ahmad Ismail, Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BKPM) kota Pekalongan

 
Jum
19
Peb
2010

Obat TB aman untuk wanita menyusui atau hamil

Written by ismail Published in: Kesehatan Comments 0 PDF Pdf Print Print Email Email prev
next


Pada prinsipnya pengobatan TB pada ibu menyusui tidak berbeda dengan pasien pada umumnya. Semua jenis OAT aman diminum oleh ibu menyusui. Sedangkan pada ibu hamil, semua jenis OAT yang diminum aman, sedangkan obat yang berupa suntikan tidak dianjurkan. Seorang ibu hamil atau menyusui harus mendapatkan pengobatan TB secara adekuat.

Sampai saat ini masih banyak ibu hamil atau menyusui yang menghentikan pengobatannya karena mereka kawatir akan keselamatan janin atau bayinya. Justru yang sangat disayangkan adalah, mereka menghentikan obat TB setelah berkonsultasi dengan bidan desa. Dengan tulisan ini, semoga tenaga kesehatan dan PMO (pengawas Minum Obat) mengetahui bahwa obat TB aman diminum oleh wanita hamil atau ibu menyusui.

Obat suntikan diberikan pada pasien yang gagal pada pengobatan pertama, pasien kambuh atau pasien putus obat (default). Pasien akan mendapatkan suntikan setiap hari selama 2 bulan. Pada ibu hamil, obat suntikan ini tidak dianjurkan karena bersifar permanen ototoksik dan menembus barier plasenta  yang dapat menimbulkan gangguan pendengaran pada janin.

Perlu dijelaskan pada ibu hamil atau  menyusui bahwa keberhasilan pengobatan sangat penting artinya. Pada ibu hamil bertujuan supaya proses persalinan berjalan lancer dan bayi yang dilahirkan akan terhindar dari kemungkinan tertulat TB. Sedangkan pada ibu menyusui, pengobatan TB sampai sembuh adalah cara terbaik untuk menghindari penularan dari ibu kepada bayinya. Sebagaimana kita ketahui bahwa penularan kuman TB karena percikan dahak pada waktu kita batu, bersin, bicara bahkan pada saat kita bernafas. Ibu menyusui boleh tetap menyusui bayinya asalkan memakai masker pada saat berdekatan.

Setelah 2 bulan pengobatan, biasanya kuman sudah bersifat dormant (tidur/tidak aktif) sehingga tidak menularkan kepada orang-orang di sekitarnya, demikian juga dengan bayi yang sedang disusui.

Sedangkan bagi pasien TB yang sedang dalam pengobatan, dianjurkan tidak menggunakan kontrasepsi hormonal (pil KB, KB suntik dan KB susuk). Rifampisin dengan kontrasepsi hormon sehinggak akan menurunkan efektifitas kontrasepsi tersebut. Seorang pasien TB sebaiknya menggunakan kontrasepsi yang mengandung estrogen dosis tinggi (50 mcg) atau kontrasepsi non-hormonal seperti: kondom & IUD.

Ahmad Ismail, poli TB BKPM kota pekalongan

Sumber:

Anonym. 2007. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis edisi 2 cetakan pertama.  Jakarta: Departemen Kesehatan RI

 

 

 

 
<< Mulai < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Halaman 6 dari 83

Pilih Tampilan / motif Web:

style style style style style style style style

Available Font Family : Arial Verdana Tahoma Trebuchet Georgia Optima Times New Roman Lucida Lucida Sans
Available Font Size : small Standard Big

Artikel Terbaik

Pengunjung

mod_vvisit_counterHari ini876
mod_vvisit_counterKemarin1345
mod_vvisit_counterMinggu ini3366
mod_vvisit_counterBulan ini9944
mod_vvisit_counterTotal556815

Anggota LOGIN



Anda akan dibayar 0,10$ periklan yang kamu klik
Komisi klik 10 iklan perhari 0,10$, jika 20 referal klik 10 iklan komisi 2.00$,kalo setiap hari komisi 2.10$, jadi perminggu komisi 14.70$ Buktikan sendiri!!

CO.CC:Free Domain
DOMAIN Gratis Tanpa Syarat
Mau domain gratis untuk website anda

IP Anda
38.107.191.91
United States United States :
Browser
Unknown Browser Unknown Browser
Operating System
Unknown Operating System Unknown Operating System

Tamu RC Sekarang

Ada 13 tamu online
Akses Internet anda
 

Jumlah Anggota

Total Members : 1244
Latest Member : DivingHurghada
Members Online : 0
Today : 2 Registers
This Week : 6 Registers
This Month : 18 Registers

Hub.0819.0368.1012
Website Develop and Installation Hotspot Area please visit www.gatesoftindo.com